:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5165112/original/038745200_1742183675-9b5d67f5fae36df45134bf9a820b0ecb.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Saraf kejepit bisa terjadi pada siapa saja, tanpa pandang usia maupun profesi. Baik ibu rumah tangga, pekerja kantoran, atlet, hingga mereka yang sehari-hari hanya aktif scrolling media sosial pun punya risiko. Ini karena saraf kejepit tidak muncul tiba-tiba, dan sering kali terkait dengan kebiasaan serta riwayat benturan yang dianggap sepele.
“Saraf terjepit tidak akan terjadi kalau tidak ada perubahan struktur tulang. Harus terjadi penyempitan dulu pada ruas tulang belakang,” jelas dr. Irca Ahyar Sp.N, DFIDN dari DRI Clinic, dikutip dari keterangan tertulis Senin (2/6).
Tak Terjadi dalam Semalam
Menurut dr. Irca, ada dua penyebab saraf kejepit yang utama: trauma mendadak dan proses jangka panjang.
Trauma bisa berasal dari benturan akibat kecelakaan atau aktivitas berat seperti olahraga high impact. Misalnya saat jatuh terduduk atau salah angkat beban berat.
“Perubahan struktur tulangnya memang benar-benar baru terjadi. Contohnya, kita mengangkat beban berat tapi otot tidak siap, atau posisi tubuhnya salah,” jelasnya.
Namun, tak semua kasus muncul mendadak. Banyak orang yang baru menyadari gejala saraf kejepit saat dewasa, padahal pergeseran tulang mungkin sudah terjadi sejak masa kecil karena jatuh dari pohon atau tangga.
“Saat dewasa dan mengangkat beban, bisa tiba-tiba terasa nyeri di pinggang sampai bokong. Saat dicek X-ray, ternyata itu akibat benturan lama yang baru ‘aktif’ sekarang,” lanjut dr. Irca.


