:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5282016/original/041216600_1752458888-d6db1c2c-b82d-47a0-959b-4b766645bf82.jpg)
Liputan6.com, Jakarta Gejala tubuh kekurangan zat besi alias anemia defisiensi besi cukup beragam. Salah satu yang banyak diketahui adalah pusing dan wajah tampak pucat. Selain itu, ada juga :
- Nafsu makan menurun, terutama pada anak-anak.
- Makanan yang biasa dikonsumsi bisa terasa aneh atau tidak seperti biasanya.
- Kelelahan yang tidak membaik meskipun cukup istirahat.
- Kesemutan atau rasa tidak nyaman di kaki.
- Sesak napas dan nyeri dada, terutama saat beraktivitas.
- Restless leg syndrome (sensasi tidak nyaman pada kaki saat beristirahat).
- Lidah membengkak atau terasa nyeri, serta kesulitan menelan.
- Rambut rontok dan kuku mudah rapuh atau patah.
- Rasa dingin pada tangan dan kaki.
- Telinga berdenging.
- Luka pada sudut mulut (angular cheilitis).
“Anemia defisiensi besi adalah kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi. Sehingga, tidak dapat memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang cukup untuk membentuk sel darah merah. Hemoglobin berperan penting dalam membawa oksigen ke seluruh tubuh,” kata dokter spesialis penyakit dalam RS EMC Pulomas, Ivan Banjuradja, mengutip laman EMC, Senin (14/7/2025).
Kekurangan zat besi dapat disebabkan oleh pendarahan, kehamilan, atau gangguan penyerapan zat besi. Penanganan anemia defisiensi besi dilakukan dengan menambah asupan zat besi, baik melalui makanan maupun suplemen. Pasien dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi zat besi seperti daging merah, sayuran hijau, dan ikan.
Saat kadar zat besi dalam tubuh terlalu rendah, dokter biasanya akan memberikan suplemen. Bila penyebabnya adalah perdarahan seperti akibat polip atau miom, tindakan operasi mungkin dibutuhkan. Pada kasus gangguan penyerapan, pengobatan diberikan melalui obat khusus.
Bila kondisi tidak membaik dengan pengobatan awal, transfusi darah dapat menjadi langkah lanjutan untuk meningkatkan kadar hemoglobin secara cepat.
Penggemar Diego Maradona berkumpul di luar rumah sakit tempat sang mantan bintang sepak bolah dirawat karena akan menjalani operasi di otaknya. Maradona menderita anemia, ada penumpukan darah di antara selaput dan otaknya.


