:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5282744/original/044543800_1752482996-ChatGPT_Image_Jul_14__2025__03_45_06_PM.jpg)
Selain protein, dr. Nadhira juga menyarankan agar bekal anak diselingi dengan susu atau makanan lain yang kaya gizi agar anak tetap bertenaga sepanjang hari.
Namun, dia menyoroti bahwa kesadaran masyarakat terhadap gizi anak masih rendah, terutama di daerah. Banyak keluarga yang masih mengandalkan nasi dan mie sebagai menu utama tanpa memperhatikan kandungan protein dan lemak sehat.
“Mindset-nya masih nasi dan mie. Padahal, anak-anak butuh lebih dari sekadar karbohidrat. Mereka juga butuh protein dan lemak sehat untuk tumbuh optimal,” katanya.
Dia juga mengkritik anggapan bahwa anak gemuk berarti sehat. Menurutnya, baik gizi buruk maupun obesitas sama-sama menjadi masalah di Indonesia.
“Status gizi anak itu harus ditentukan oleh tenaga medis. Jangan biasakan menyebut anak gemuk itu pasti sehat. Enggak,” ujar dr. Nadhira.


