:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5059391/original/087390600_1734708067-Snapinsta.app_470911970_18485253775046137_6516081750329819612_n_1080.jpg)
Sebagian pihak menyayangkan dan menilai kehamilan di luar nikah tidak patut untuk dinormalisasi.
Namun, tak sedikit pula yang menyatakan empati dan mengapresiasi keberanian Erika yang memilih bertanggung jawab atas keputusannya.
Lantas, bagaimana seharusnya kita bersikap ketika mengetahui ada kerabat atau sahabat yang mengalami kondisi serupa?
Kehamilan di luar pernikahan kerap menjadi bahan perbincangan hangat, disertai stigma sosial dan penghakiman.
Padahal, menurut Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo, perempuan yang sedang menghadapi kondisi tersebut justru membutuhkan empati, bukan cibiran.
“Kalau ditanya harus bagaimana, kuncinya adalah kembali ke teori empati. Kita perlu bisa lebih berempati kepada orang yang sedang mengalami situasi itu,” ujar Ayoe saat dihubungi Health Liputan6.com pada Minggu, 20 Juli 2025.
Ayoe, menegaskan, kehamilan di luar nikah bukanlah situasi mudah. Terlepas dari benar atau salah, perempuan yang mengalaminya sedang menghadapi tekanan mental dan sosial yang berat.
“Terlepas dari apakah itu salah atau tidak, tetap saja ini adalah situasi yang sulit bagi setiap orang untuk menjalaninya. Apalagi ketika harus hamil dan menjalani semuanya sendirian tanpa pasangan,” ujarnya.

