:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3428411/original/061184500_1618380820-healthy-people-salad-food-woman_1303-1528.jpg)
1. Gangguan Pencernaan
Makan cepat membuat makanan tidak dikunyah dengan baik. Padahal, proses pencernaan dimulai di mulut dengan bantuan enzim di air liur. Mengutip dari laman verywellhealth.com, potongan makanan yang besar memaksa lambung bekerja lebih keras untuk memecahnya, sehingga meningkatkan risiko kembung, sakit perut, dan refluks asam.
Selain itu, proses penyerapan nutrisi bisa terganggu. Makanan yang tidak tercerna sempurna akan melewati usus dengan kualitas pemecahan yang kurang optimal, membuat tubuh tidak mendapatkan manfaat gizi secara maksimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi metabolisme dan kesehatan secara keseluruhan.
2. Kenaikan Berat Badan
Otak memerlukan waktu sekitar 20 menit untuk menerima sinyal kenyang dari hormon leptin. Saat makan terlalu cepat, kita cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori sebelum otak menyadari bahwa perut sudah penuh. Akibatnya, risiko makan berlebihan (overeating) meningkat.
Kelebihan kalori yang tidak digunakan akan disimpan tubuh sebagai lemak. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, berat badan akan meningkat secara signifikan. Kenaikan berat badan yang tidak terkontrol ini juga menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit lain seperti diabetes dan hipertensi.
3. Sindrom Metabolik
Sindrom metabolik adalah kumpulan kondisi seperti tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, dan lemak perut berlebih. Makan terlalu cepat dapat memicu lonjakan gula darah yang tajam setelah makan, sehingga memengaruhi sensitivitas insulin.
Ketika tubuh terus-menerus mengalami lonjakan gula darah, risiko resistensi insulin meningkat. Kondisi ini merupakan faktor utama penyebab diabetes tipe 2. Beberapa studi menemukan bahwa orang yang makan cepat memiliki risiko sindrom metabolik lebih tinggi dibandingkan mereka yang makan perlahan.
4. Penyakit Jantung
Kebiasaan makan cepat berkaitan erat dengan peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL) dan penurunan kolesterol baik (HDL). Kondisi ini dapat mempercepat proses penumpukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis) yang memicu penyakit jantung.
Selain itu, makan cepat juga sering berkaitan dengan pola makan yang tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan gula secara berlebihan. Kombinasi faktor ini semakin meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.
5. Risiko Tersedak
Makan cepat membuat kita menelan potongan makanan yang besar dan tidak terkunyah sempurna. Dikutip cleaneatingmag.com, kebiasaan ini meningkatkan risiko tersedak, terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia.
Selain tersedak, makanan yang tertelan dalam potongan besar juga dapat menyebabkan sensasi tidak nyaman di tenggorokan atau dada. Jika sering terjadi, ini dapat menimbulkan rasa cemas saat makan, yang justru memperburuk kebiasaan makan tidak sehat.


