Ketersediaan jaringan 4G di Indonesia telah mencapai lebih dari 90 persen di berbagai pulau besar, dengan Pulau Jawa memiliki tingkat tertinggi sebesar 96,4 persen, disusul oleh Bali dan Nusa Tenggara dengan 95,2 persen. Bahkan wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau seperti Sulawesi dan Maluku juga telah mencapai angka 90 persen. Peningkatan ini bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil dari investasi infrastruktur, kemitraan publik-swasta, dan kebijakan pro-pemerataan yang telah dilakukan.
Program Kewajiban Pelayanan Universal (KPU) yang dikelola oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) memainkan peran kunci dalam peningkatan ini. Dengan bantuan dana kontribusi dari operator, pemerintah berhasil mendirikan 6.672 menara Base Transceiver Station (BTS) di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan menghasilkan akses 4G ke berbagai institusi seperti sekolah, puskesmas, dan kantor desa.
Meutya menyampaikan bahwa upaya ini bukan hanya sekadar pembangunan infrastruktur, namun juga tentang pemerataan akses digital. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak Indonesia, dari Aceh hingga Merauke, dalam mengakses pendidikan dan berkembang secara merata. Sementara itu, teknologi 5G tengah berkembang secara perlahan namun strategis, khususnya di wilayah Bali dan Nusa Tenggara yang mencatat ketersediaan tertinggi sebesar 17 persen. Fokus pengembangan teknologi ini saat ini lebih difokuskan pada kawasan pariwisata dan bisnis, dengan langkah yang realistis dalam memastikan kesiapan spektrum, efisiensi biaya, dan keberlanjutan infrastruktur sebelum memperluas jangkauan ke level nasional.

