:strip_icc()/kly-media-production/medias/4838233/original/057874200_1716263381-AP24141612292346.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Fenomena Gen Z yang semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk curhat menjadi perhatian serius Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia. Dr. Retno Kumolohadi S.Psi., M.Si., Psikolog, yang baru saja terpilih kembali sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat IPK Indonesia periode 2025 s.d 2029, menegaskan, meski AI bisa menjadi alat bantu, psikolog klinis tetap tidak tergantikan.
“Fenomena ini memang cukup banyak terjadi. Namun, mereka mengaku bahwa AI itu tidak cukup, tidak bisa sama sekali menggantikan psikolog. Mereka mungkin pertama akan ke ChatGPT, tapi kemudian tetap berkontak dengan kami,” ujar Retno.
Dia, menjelaskan, di ruang-ruang praktik psikolog klinis, semakin banyak contoh Gen Z yang datang setelah merasa tanggapan AI tidak dapat memahami konteks emosional mereka secara mendalam. “Itu terjadi di ruang-ruang praktik kami semua,” tambahnya.
Dalam Kongres V Ikatan Psikolog Klinis Indonesia yang berlangsung pada 21 s.d 23 November 2025 di Jakarta, Retno menegaskan bahwa Indonesia masih berada dalam situasi darurat kesehatan mental. Tingginya prevalensi depresi, kecemasan, skizofrenia, hingga kasus bunuh diri menjadi alarm penting bagi negara.
“Prevalensi masalah dan gangguan jiwa di Indonesia sangat tinggi. Kita bisa dikatakan darurat, sehingga perlu penanganan yang lebih serius,” kata Retno.


