:strip_icc()/kly-media-production/medias/4829663/original/080618100_1715564047-daria-nepriakhina-Hk37N5zcAHU-unsplash.jpg)
Rambut manusia sebenarnya terus mengalami proses tumbuh dan rontok setiap hari. Secara normal, seseorang bisa kehilangan sekitar 50 hingga 150 helai rambut per hari. Meski tampak banyak, jumlah itu sangat kecil dibandingkan dengan total sekitar 100.000 helai rambut yang memenuhi kulit kepala.
Setiap helai rambut memiliki siklus hidupnya sendiri dan tidak semuanya berada pada tahap yang sama. Dalam dunia kesehatan rambut, siklus ini terbagi menjadi empat fase. Anagen adalah masa ketika rambut aktif tumbuh. Setelah itu, rambut memasuki catagen, yaitu fase perlambatan pertumbuhan. Berikutnya adalah telogen, masa ketika rambut beristirahat. Terakhir, rambut memasuki fase exogen, yakni saat rambut rontok secara alami untuk memberi ruang bagi rambut baru.
Menurut ahli dermatologi dari News Orleans, Mary Lupo menuturkan, kulit kepala memiliki reseptor yang merespons hormon estrogen. Hormon inilah yang membantu memperpanjang fase anagen, yaitu masa ketika rambut aktif tumbuh.
Saat memasuki masa transisi menuju menopause, kadar estrogen dalam tubuh mulai menurun. Akibatnya, fase pertumbuhan rambut menjadi lebih pendek dan lebih banyak helai rambut masuk ke fase telogen, yaitu fase ketika rambut bersiap untuk rontok. Perubahan inilah yang membuat sebagian wanita mengalami peningkatan kerontokan rambut pada periode tersebut.
Selain itu, perubahan tingkat kerontokan rambut selama masa menopause bisa sangat berbeda pada setiap wanita.
“Tidak semua wanita akan mengalami kerontokan rambut yang berlebihan saat menopause beberapa memang memiliki faktor genetik yang membuat mereka lebih rentan,” ujar Callender.
Rambut baru juga bisa tumbuh lebih lambat seiring bertambahnya usia atau saat memasuki masa menopause.

