:strip_icc()/kly-media-production/medias/5411839/original/014280000_1763022491-ilustrasi_nonton_drama_korea.png)
Liputan6.com, Jakarta – Setelah seharian bekerja, menghadapi tekanan, dan terjebak kemacetan, banyak orang memilih bersantai dengan menonton ulang serial favorit seperti Friends, Reply 1988 atau lainnya. Meski alur ceritanya sudah di luar kepala, tayangan tersebut tetap terasa menyenangkan dan menenangkan.
Kebiasaan menonton ulang atau rewatching ternyata bukan sekadar cara mengisi waktu luang. Menurut para psikologi, kebiasaan ini memiliki dasar ilmiah dan bahkan bisa menjadi bentuk perawatan diri.
Di tengah melimpahnya konten baru di berbagai platform streaming, tidak sedikit orang merasa bersalah karena terus memilih tontonan lama. Namun, para pakar menilai hal ini sebagai respons alami otak saat mengalami kelelahan mental.
Psikolog klinis dari Clarity Clinic Chicago, Aimee Daramus, menjelaskan bahwa cerita yang konsisten dan sudah dikenal memberi rasa stabil bagi penontonnya.
“Terkadang, kita hanya ingin hidup terasa tetap sama selama beberapa jam,” ujarnya mengutip Verywell Mind, Kamis, 8 Januari 2026.
Pendapat serupa disampaikan ilmuwan perilaku sekaligus pelatih hubungan, Clarissa Silva. Menurutnya, rutinitas harian yang padat dapat menguras energi mental. Tayangan yang familiar dan penuh nuansa nostalgia mampu memberikan rasa aman, nyaman, sekaligus hiburan yang menenangkan.

