HomeKesehatanGen Z Ternyata Lebih Takut Mati Muda Ketimbang Melarat

Gen Z Ternyata Lebih Takut Mati Muda Ketimbang Melarat

Liputan6.com, Jakarta – Gen Z kerap dilekatkan dengan citra berani mengambil risiko dan tidak terlalu takut miskin. Namun, di balik gaya hidup yang tampak santai dan penuh kebebasan, sebagian anak muda justru menyimpan ketakutan lain yang tak kalah besar, kematian di usia muda.

Ketakutan itu dirasakan Titin Sahra Melani. Dia mengaku lebih takut mati dibandingkan miskin karena merasa hidupnya masih menyimpan banyak mimpi yang belum terwujud.

“Aku lebih takut mati, sih, karena aku belum siap. Masih banyak hal yang ingin aku capai, explore, dan rasakan,” ujarnya kepada Health Liputan6.com.

Kesadaran tersebut muncul seiring refleksi terhadap kebiasaan hidupnya yang belum sehat. Titin mengaku sering melewatkan sarapan, makan tidak teratur, jarang minum air putih, dan hampir setiap hari begadang.

“Aku nggak pernah sarapan, makan cuma dua kali sehari, jarang minum air putih, begadang terus. Combo maut, kan?,” katanya.

Meski belum sepenuhnya berubah, Titin mengaku mulai lebih peduli terhadap kesehatan sejak menjalani magang di kanal kesehatan.

Bagi sebagian Gen Z lainnya, ketakutan justru lebih banyak berkaitan dengan masa depan ekonomi dan kesehatan mental. Hal ini dirasakan Selvi Anitha Lestari yang mengaku lebih takut miskin dibandingkan mati.

“Takut miskin, sih, karena keluargaku merintis banget dan aku nggak mau keturunanku ngerasain apa yang aku rasain,” ujarnya.

Meski demikian, Selvi juga menyimpan kekhawatiran terhadap kematian, terutama yang disebabkan oleh gangguan mental. “Aku takut mati konyol, karena depresi atau overthinking,” ujarnya.

Dalam keseharian, Selvi mengaku cukup menjaga pola hidup. Dia jarang mengonsumsi makanan manis dan pedas karena merasa kasihan pada tubuhnya sendiri. Menurutnya, konsumsi gula berlebih menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko diabetes di usia muda.

Pandangan berbeda disampaikan Aliyyah Fayyaza Zulthany, yang menilai ketakutan terhadap kemiskinan dan kesehatan tidak bisa dipisahkan.

Menurutnya, kondisi ekonomi sangat memengaruhi kemampuan seseorang menjalani hidup sehat.

“Miskin itu rasanya seperti mati perlahan, karena akses kesehatan jadi terbatas,” ujarnya. 

Source link

Harus Dibaca