HomeKesehatanMenilik Perjalanan Ramuan Herbal Menjadi Fitofarmaka, Ukur Khasiat Tanaman Obat Secara Ilmiah

Menilik Perjalanan Ramuan Herbal Menjadi Fitofarmaka, Ukur Khasiat Tanaman Obat Secara Ilmiah

Liputan6.com, Jakarta – Mengubah ramuan herbal menjadi fitofarmaka memerlukan penelitian panjang. Bukan hanya soal stabilitas, tapi khasiat dan kemananannya pun harus diukur secara ilmiah.

Fitofarmaka adalah obat herbal terstandar (OHT) yang sudah melalui uji praklinik (pada hewan percobaan) dan uji klinik (pada manusia) di mana bahan baku dan produk jadinya sudah distandarisasi.

Farmakolog molekuler, Prof. Raymond Tjandrawinata tak memungkiri, Indonesia sejak lama dikenal memiliki warisan jamu dan ramuan herbal yang mengakar kuat dalam sejarah.

Relief Candi Rimbi dari era Majapahit hingga naskah Serat Centhini mencatat ratusan jenis tanaman obat dan puluhan resep jamu untuk berbagai keluhan kesehatan. Namun, dalam dunia medis modern, khasiat ramuan tradisional kerap berada di wilayah abu-abu—diakui secara empiris, tetapi belum sepenuhnya terbukti secara ilmiah.

Misalnya meniran (Phyllanthus niruri L.), tanaman obat yang telah lama digunakan masyarakat dan tercatat dalam berbagai naskah historis. Mulai dari catatan herbalist Belanda awal abad ke-20 berjudul Bab Tetuwuhan ing Tanah Hindiya Miwah Dayanipun Kangge Jampi hingga manuskrip Jawa berjudul Dayasarana yang diakui oleh UNESCO.

Pengetahuan turun-temurun kemudian menjadi pondasi riset modern, di mana meniran diteliti secara biomolekuler, distandardisasi, dan diuji secara praklinik serta klinik.

Dari proses inilah lahir produk imunomodulator berbasis bahan alam dengan khasiat yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

“Dalam proses penelitiannya, para saintis mengalami banyak tantangan yang harus dipecahkan hingga Obat Modern Alami Integratif (OMAI) ini dirasakan manfaatnya oleh pasien,” kata Raymond dalam keterangan pers, Kamis (22/1/2026).

 

Source link

Harus Dibaca