:strip_icc()/kly-media-production/medias/5516256/original/087018600_1772271160-fotofobia.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta – Salah satu gejala campak yang kerap dialami anak adalah sensitif terhadap cahaya atau fotofobia.
“Gejala sensitif terhadap cahaya? Ya, sebetulnya tidak melulu hanya campak, kalau demam tinggi anak juga fotofobi, suka kicep-kicep (kedip-kedip) enggak suka lampu,” kata dokter spesialis anak subspesialis Infeksi dan penyakit tropis, Profesor Anggraini Alam kepada Health Liputan6.com dalam webinar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Sabtu (28/2/2026).
Dia menambahkan, infeksi campak juga dapat menurunkan kadar vitamin dalam tubuh dan memicu masalah mata. Namun, fotofobia ini tidak terjadi akibat penurunan vitamin A tersebut.
“Bukan kurang vitamin A, berbeda, kalau kurang vitamin A itu bukan sensitif terhadap cahaya, tapi kebalikannya, malah tidak sensitif, rabun senja. Begitu cahaya redup, maka dia bisa nabrak-nabrak.”
Dengan kata lain, fotofobia lebih berkaitan dengan demam dan bukan akibat dari penurunan vitamin A. Pasalnya, anak yang campak umumnya mengalami gejala demam tinggi, batuk pilek, disertai mata merah.
Lantas, apakah konsumsi wortel dapat membantu masalah fotofobia?
Menurut Anggraini, konsumsi wortel tidak membantu mengatasi fotofobia melainkan dapat membantu menambah asupan vitamin A.
“Siklus campak memang menurunkan vitamin A, tapi apakah konsumsi wortel dapat membantu? Kita hitung dulu satu wortel itu berapa IU karena yang diberikan itu harus 100 ribu sampai 200 ribu IU. Saya jadi pengen tahu berapa wortel sampai sama dengan 100 ribu atau 200 ribu IU, tentu kita tidak minta satu pick up wortel untuk dimakan anaknya,” kata Ketua IDAI Jawa Barat itu.


