Pertandingan catur antara senior dan pemain muda menjadi sorotan karena dinilai memiliki daya tarik tersendiri. Dalam pandangan teknis, pemain senior dianggap memiliki keunggulan. Namun, kemenangan dalam pertandingan tidak selalu bisa diprediksi karena hasilnya juga ditentukan oleh kondisi fisik dan kekuatan mental. Hal ini diakui oleh Utut, yang menegaskan bahwa fisik pemain senior tidak sekuat dulu. Sebagai bentuk apresiasi, juara pertama, kedua, dan ketiga akan dikirim ke Kejuaraan Dunia Antar Senior di Serbia. Turnamen ini menggunakan Sistem Scheveningen di mana setiap pemain junior akan bermain satu kali melawan pemain senior. Hal ini dijelaskan oleh wasit nasional dan pelatih nasional, Hendri Hendratno. Para pemain junior akan dinilai berdasarkan jumlah poin yang berhasil mereka raih setelah melawan para senior. Kompetisi ini diharapkan dapat memunculkan semangat persaingan yang sehat antara dua generasi pemain catur Indonesia.


