:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5546356/original/025725600_1775289497-isti.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta – Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan sekitar 1 dari 127 orang di dunia berada dalam spektrum autisme. Di Indonesia, tantangan terbesar yang dihadapi orang dengan spektrum autisme masih terletak pada lingkungan sosial yang belum sepenuhnya siap.
Minimnya pemahaman masyarakat, stigma, serta keterbatasan akses terhadap informasi berbasis sains masih menjadi tantangan berat bagi banyak keluarga anak autistik. Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi perkembangan yang memengaruhi komunikasi, pemrosesan sensori, regulasi emosi, serta interaksi sosial seseorang.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga melibatkan peran penting lingkungan di sekitarnya, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Dukungan dari ketiga lingkungan ini menjadi kunci agar individu autistik dapat tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal dalam kehidupan sosial.
“Selama ini banyak keluarga berjalan sendiri dalam memahami autisme. Mencari informasi sendiri, menghadapi stigma sendiri, bahkan sering merasa bersalah. Kami ingin membuka ruang belajar bersama agar masyarakat memahami bahwa autisme bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami,” kata Founder Peduli ASD, Dr. Isti Anindya, S.Si., M.Sc, dalam Festival Peduli Autisme 2026 di Depok, Sabtu (4/4/2026).
Ia menambahkan, perubahan menuju masyarakat inklusif membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Ketika keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat dapat berjalan bersama, maka individu autistik memiliki kesempatan yang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berpartisipasi secara optimal.


