:strip_icc()/kly-media-production/medias/5552854/original/005706100_1775838447-tes_buta_warna.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Orang yang buta warna sulit membedakan warna-warna tertentu. Hijau dan merah, merupakan dua warna yang paling umum sulit dibedakan oleh orang dengan gangguan penglihatan warna atau discromatopsia ini.
Dokter spesialis mata Drasthya Zarisha mengatakan kondisi buta warna umumnya sudah ada sejak lahir. Namun, baru sadar memiliki gangguan penglihatan warna ketika mengikuti tes kesehatan untuk sekolah, pekerjaan, atau pembuatan surat izin mengemudi (SIM).
Lalu, kok bisa seseorang buta warna? Drasthya mengatakan hal ini terkait dengan faktor keturunan, khususnya kondisi buta warna yang diwariskan orangtua.
“Sebagian besar kasus gangguan penglihatan warna bersifat bawaan atau kongenital,” kata Drasthya mengutip laman IPB University.
Orang dengan kondisi discromatopsia mengalami kelainan pada sel kerucut di retina, yakni sel yang berperan penting dalam menangkap dan membedakan warna. Sementara, pada individu dengan penglihatan normal atau trikromatis, mata mampu mencampur tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru.
Buta warna kongenital berkaitan dengan gen resesif yang terletak pada kromosom X, khususnya pada spektrum merah-hijau. Karena itu, kondisi ini lebih sering diturunkan melalui ibu yang berperan sebagai carrier.
Ayah yang mengalami buta warna tidak serta merta menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya. Hal ini karena anak laki-laki menerima kromosom Y dari ayah dan kromosom X dari ibu.
“Jika seorang ibu membawa gen buta warna atau mengalaminya, maka anaknya berpotensi memiliki kondisi serupa. Untuk anak laki-laki, cukup satu gen X yang terdampak untuk mengalami buta warna, sedangkan pada perempuan dibutuhkan dua gen X yang terdampak,” jelasnya.


