:strip_icc()/kly-media-production/medias/5557475/original/040978700_1776330858-FH_UI.jpg)
Kekerasan seksual verbal bukan bahan candaan. Sayangnya, pelaku kerap membela diri dengan kalimat kan cuma bercanda, jangan baper, serius amat.
Padahal justru kalimat-kalimat ini sering menjadi cara untuk menutupi kekerasan. Secara psikologis, ini adalah bentuk moral disengagement, yaitu ketika seseorang melepaskan perilakunya dari tanggung jawab moral. Candaan berhenti menjadi candaan ketika orang lain menjadi korbannya.
“Humor yang melukai martabat bukan humor, tetapi kekerasan yang dibungkus tawa.”
Seseorang yang mengalami pelecehan baik verbal, fisik, seksual, digital akan mengalami luka psikologis yang berat. Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan, tetapi oleh makna pengalaman yang dirasakan korban.
Pelecehan verbal atau digital dapat memberikan dampak yang sangat besar karena korban merasa direndahkan, dipermalukan, dijadikan objek, dan kehilangan rasa aman.
Bahkan dalam beberapa kasus, efek emosionalnya bisa setara atau sangat berat, terutama bila percakapan tersebut menyebar luas dan diketahui banyak orang. Luka fisik mungkin tidak ada, tetapi luka pada harga diri, martabat, dan rasa aman bisa sangat dalam.
Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem (harga diri), sense of safety (rasa aman), kepercayaan terhadap lingkungan sosial, dan body image (citra tubuh).
“Korban bisa terus mengulang percakapan tersebut dalam pikirannya (intrusive thought) menjadi PTSD (post traumatic stress disorder) yang tentunya dapat berdampak pada seluruh aspek kehidupannya di masa depan,” kata Kepala Instalasi Rehabilitasi Psikososial RS Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor itu.


