:strip_icc()/kly-media-production/medias/4132488/original/036709300_1661224510-yuri-figueiredo-AYPtoJSBvbU-unsplash.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Ketika teman atau anggota keluarga menjadi korban pelecehan seksual, kadang bingung harus bersikap seperti apa. Di satu sisi ingin membantu, tetapi di sisi lain khawatir salah langkah atau justru memperburuk kondisi emosional korban.
Situasi ini memang tidak mudah, karena korban sering kali berada dalam kondisi rentan, syok, atau belum siap untuk bercerita. Dalam kondisi seperti ini, bisa menggunakan Psychological First Aid (PFA).
“Saat seseorang menjadi korban, yang dibutuhkan pertama kali bukan pertanyaan panjang tetapi pertolongan pertama pada luka psikologis,” kata psikiater Lahargo Kembaren dalam keterangan tertulis, Sabtu, 18 April 2026.
Psychological First Aid (PFA) terdiri dari Look – Listen – Link:
a. LOOK (Lihat)
Amati kondisi emosional korban, perhatikan tanda-tanda seperti:
- menangis
- gemetar
- bingung
- menarik diri
- tampak sangat takut
- sulit berbicara.
Lihat juga apakah ada risiko lebih lanjut, misalnya korban masih berada dalam lingkungan yang tidak aman. Sebelum bertanya, lihat dulu apakah ia merasa aman.
b. LISTEN (Dengarkan)
Dengarkan dengan empati, tanpa menghakimi, tanpa menyela, tanpa menyalahkan. Gunakan kalimat yang menolong, seperti:
- “Saya percaya kamu.”
- “Apa yang kamu rasakan valid.”
- “Kamu tidak sendirian.”
Hindari kalimat:
- “Kenapa kamu diam saja?”
- “Kok bisa sih?”
- “Jangan terlalu dipikirkan”
Mendengar dengan empati sering menjadi awal penyembuhan. Korban tidak selalu butuh solusi cepat, kadang ia hanya butuh ruang yang aman untuk didengar.


