HomeKesehatanJangan Tunggu Cuci Darah, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Gagal Ginjal

Jangan Tunggu Cuci Darah, Deteksi Dini Jadi Kunci Cegah Gagal Ginjal

Liputan6.com, Jakarta – Cuci darah atau hemodialisis merupakan salah satu terapi saat seseorang mengalami penyakit ginjal kronik stadium 5 (akhir) alias gagal ginjal.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, Lydia Dorothea Simatupang, mengatakan cuci darah perlu dilakukan 2-3 kali dalam seminggu.

“Kalau pada akhirnya disebut mengalami penyakit ginjal kronis stadium akhir atau gagal ginjal, memang enggak ada pilihan (untuk melakukan terapi pengganti ginjal). Ini karena ginjal tidak bisa berfungsi menunjang kebutuhan tubuh,” kata Lydia saat wawancara daring beberapa waktu bersama RS Pondok Indah.

Lydia menerangkan terapi pengganti ginjal seperti cuci darah dilakukan untuk menyaring limbah dan menjaga keseimbangan cairan serta metabolisme tubuh. Bila dibiarkan, kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi serius, mulai dari pembengkakan, gatal, hingga penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas dan mengancam nyawa.

Pada kasus yang lebih berat, pasien bahkan bisa mengalami penurunan kesadaran hingga kejang.

“Kalau itu menumpuk, bisa membuat paru bengkak yang mengancam nyawa, penurunan kesadaran, kejang. Itu sangat merugikan dan mengancam nyawa,” kata Lydia.

Terapi Cuci Darah Mahal, Maka Itu Cegah Sejak Dini

Biaya cuci darah (hemodialisis) tidaklah murah, apalagi prosedur ini harus dijalani secara rutin dan jangka panjang. Maka dari itu, Lydia mengingatkan masyarakat untuk memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak dini. Salah satunya dengan menjalani pemeriksaan kesehatan rutin termasusk cek darah dan urine.

“Lebih baik aware dengan kesehatan kita sejak dini, jangan diabaikan. Kalau tensi baik-baik saja, semua baik-baik saja tetap perlu tes laboratorium. Pencegahan itu lebih baik,” pesan Lydia.

Source link

Harus Dibaca