:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5564727/original/012118000_1776997561-GUE07958.jpg)
Dari sisi kesehatan kerja, Ketua Umum PERDOKI, dr. Agustina Puspitasari, Sp.Ok., Subsp.BioKO (K) mengingatkan pentingnya pendekatan preventif yang lebih komprehensif, termasuk imunisasi pekerja.
“Dengue bukan hanya memberikan beban kesehatan bagi individu, tetapi juga berdampak pada keluarga dan lingkungan kerja. Ketika seorang pekerja terinfeksi, dampaknya dapat meluas,” kata Agustina.
Dia menjelaskan bahwa dampak tersebut tidak hanya pada proses pemulihan yang memakan waktu, tetapi juga gangguan pada aktivitas sehari-hari hingga produktivitas kerja.
“Sehingga upaya pencegahan perlu diperkuat secara komprehensif dengan upaya promotif seperti edukasi dan pengendalian faktor risiko di lingkungan kerja, sehingga pekerja terlindungi, tetap sehat, dan produktif,” tambahnya.
Yusuf juga menekankan bahwa ancaman dengue tidak hanya berasal dari lingkungan kerja. Penularan bisa terjadi dari rumah dan terbawa ke kantor tanpa disadari.
“Orang bisa sudah terinfeksi dari rumah, lalu datang ke kantor saat gejalanya masih ringan. Di situ bisa terjadi penularan. Jadi ancamannya sama, baik di rumah maupun tempat kerja,” katanya.
Oleh sebab itu, edukasi menjadi kunci penting. Yusuf menyoroti masih banyak anggapan bahwa dengue hanya muncul saat musim hujan, padahal nyamuk berkembang biak setiap hari.
“Perlu dipahami bahwa ini bukan hanya penyakit anak-anak, tapi juga orang dewasa. Pencegahan, termasuk vaksinasi, jadi langkah penting karena sifatnya lebih hemat dan preventif,” pungkas Yusuf.
Dengan penguatan K3, peningkatan kesadaran, dan kolaborasi lintas sektor, pemerintah berharap kasus dengue di tempat kerja bisa ditekan secara signifikan.


