:strip_icc()/kly-media-production/medias/3276078/original/049914000_1603438107-insurance-agent-working-during-site-car-accident-claim-process-people-car-insurance-claim.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Mengalami kecelakaan bisa meninggalkan dampak psikologis yang tidak sederhana. Banyak orang mengira reaksi yang muncul hanya sebatas kaget sesaat, padahal ada rangkaian respons emosional yang bisa terjadi setelahnya.
“Biasanya ada beberapa tahapan respons emosional yang muncul,” kata psikolog klinis Jovita Maria Ferliana kepada Health Liputan6.com ditulis Minggu, 3 Mei 2026.
Pertama, syok. Ini adalah reaksi awal yang biasanya berupa kaget, bingung atau sulit menerima bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi.
Kedua, muncul rasa takut dan cemas setelah informasi yang ada diproses. “Muncul kekhawatiran berlebih, rasa tidak aman dan pikiran tentang kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada diri sendiri atau orang terdekat.”
Ketiga, biasanya adalah reaksi emosional yang kuat. Bisa berupa sedih, marah, nangis, gelisah, sulit tidur. Lalu, mudah panik atau merasa sangat sensitif.
“Tubuh juga bisa ikut berreaksi seperti jantung berdebar-debar atau sulit makan,” tutur psikolog di Little Shine Psychological Services, Jakarta Barat itu.
Keempat, orang tersebut mulai mencari makna dan penjelasan. “Mulai bertanya, kenapa sih ini bisa terjadi? Atau mencoba memahami situasi agar merasa lebih terkendali,” tutur Jovita.
Kelima, setelah itu baru tahapan yang terakhir adalah adaptasi atau pemulihan. Pada tahap ini perlahan emosi sudah lebih stabil, rasa aman juga dibangun kembali, rutinitas kembali berjalan.
“Pikiran biasanya tidak lagi terus terfokus pada kejadian tersebut,” katanya.


