:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,45,304,0)/kly-media-production/medias/2968960/original/093446500_1573838254-IMG_0174.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta – Keterbatasan uang saku kerap membuat mahasiswa memilih makanan praktis yang murah dan cepat saji. Tak jarang, mi instan atau roti menjadi andalan di tengah padatnya jadwal kuliah. Padahal, pola makan seperti ini jika dibiarkan terus-menerus bisa berdampak pada kesehatan dan menurunkan konsentrasi belajar.
Kabar baiknya, makan sehat tidak selalu harus mahal. Dengan perencanaan sederhana dan pemilihan bahan yang tepat, mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi harian tapi enggak mahal.
Asupan makanan yang seimbang terbukti berperan penting dalam menjaga konsentrasi, stamina, dan produktivitas di tengah jadwal perkuliahan yang padat seperti disampaikan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat IPB University, Profesor Hardinsyah.
“Enak itu relatif. Bisa mahal, bisa juga hemat, tergantung kondisi mahasiswa. Yang penting tetap bergizi,” ujar Hardinsyah dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV.
Ia menekankan pentingnya tetap mengonsumsi makanan pokok, lauk berprotein, serta sayur atau buah. “Sarapan itu sekitar satu per lima kebutuhan harian. Makan siang bisa sampai 40 persen,” katanya.
Kebiasaan mahasiswa yang mengandalkan makanan praktis seperti roti atau mi instan perlu diperbaiki. Caranya dengan menambahkan protein dan sayuran.
“Kalau makan mi, pakai telur, tambahkan timun setengah biji yang disayat-sayat, atau tomat satu biji. Jangan cuma satu sayat, itu hanya aksesoris,” ujarnya.
Sayur dan buah merupakan sumber pangan penting karena mengandung antioksidan. Protein juga jangan penting untuk untuk menjaga massa otot dan kebugaran tubuh. Sumber protein tidak harus mahal dan dapat diperoleh dari telur, tempe, tahu, ikan, atau ayam. “Protein itu penting, bukan hanya buat yang nge-gym, tapi semua orang yang aktif,” katanya.


