Empat belas jam menyusuri perairan Selat Sunda belum membawa Lintang kepada Arbas, kakaknya yang termasuk dalam delapan orang hilang. Meski pencarian hari itu berakhir tanpa petunjuk, keyakinannya belum surut.
“Saya percaya masih akan bertemu Arbas,” kata Lintang.
Harapan itu bertumpu pada hubungan kakak-beradik yang telah lama terjalin erat. Dari lima bersaudara—empat laki-laki dan satu perempuan—Arbas merupakan anak keempat, sedangkan Lintang adalah anak bungsu. Keduanya dikenal memiliki kedekatan khusus, baik dalam keluarga maupun ketika menjalani perjalanan jauh bersama.
Perjalanan kerja yang mempererat hubungan
Lintang kerap mendampingi Arbas saat bekerja sebagai fotografer. Profesi Lintang sebagai pengemudi travel membuatnya terbiasa menempuh perjalanan antardaerah, kemampuan yang dibutuhkan Arbas ketika harus bergerak dari satu lokasi liputan ke tempat lain.
Dalam perjalanan tersebut, keduanya berbagi tugas di balik kemudi. Mereka pernah mendatangi kawasan terdampak letusan Gunung Kelud hingga menempuh perjalanan ke Muncar, Banyuwangi.
“Ke letusan Kelud saya bareng dia. Pernah juga sampai Muncar, Banyuwangi. Kami suka bergantian nyetir,” tutur Lintang.
Arbas dan Lintang tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia seni. Ayah mereka, Irsam, merupakan seniman kelahiran Klaten yang dikenal sebagai salah satu pelukis dekoratif penting Indonesia. Lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia atau ASRI, yang kini menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, itu banyak mengangkat tema pedesaan serta kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa dalam karya-karyanya. Namanya juga dikenal luas di kalangan seni Yogyakarta.
Menunggu petunjuk dari laut
Pencarian dimulai dari Ciwandan pada pukul 08.00. Kapal kemudian mengarungi laut selama berjam-jam dalam guncangan ombak yang terus-menerus. Menjelang senja, Lintang sempat keluar ke geladak terbuka dan beberapa kali berjalan menuju buritan.
Dari kapal, ia memandang matahari yang perlahan tenggelam di Selat Sunda. Cahaya keemasan membentang di permukaan air, tetapi angin yang semakin kencang dan dingin membuatnya tidak lama berada di luar. Lintang kemudian kembali masuk ke bagian dalam kapal.
Perjalanan baru berakhir sekitar pukul 22.00 ketika kapal kembali bersandar di pelabuhan yang sama. Setelah 14 jam berada di laut, rombongan pulang tanpa menemukan tanda mengenai keberadaan delapan orang yang dicari, termasuk Arbas.
Bagi Lintang, pencarian itu berbeda dari perjalanan-perjalanan yang dahulu ia tempuh bersama sang kakak. Saat itu, keduanya dapat bergantian mengemudi dan memastikan mereka tiba di tujuan. Kini, ia hanya dapat mengikuti penyisiran laut sambil menanti petunjuk yang bisa membawanya kembali kepada Arbas.
Kelelahan setelah seharian dihantam ombak tidak menghapus harapannya. Di tengah belum adanya hasil dari pencarian tersebut, Lintang tetap memegang keyakinan bahwa pertemuannya dengan sang kakak masih mungkin terjadi.


