:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137382/original/073868000_1739944263-riccardo-bergamini-O2yNzXdqOu0-unsplash.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Ketika mendengar kata “sushi”, benak Anda mungkin akan langsung tertuju pada Maki Sushi (sushi roll) atau Nigiri Sushi. Dibandingkan kedua jenis sushi tersebut, secara visual Inari Sushi terlihat lebih sederhana dan cenderung kurang dikneal di luar Jepang. Meski demikian, sajian sushi ini telah lama disukai oleh masyarakat Jepang.
Pada dasarnya, Inari Sushi atau Inarizushi terbuat hanya dari dua bahan saja, yakni nasi dan tofu. Oleh karena itu, sajian sushi ini sangat direkomendasikan bagi mereka yang mengadopsi pola makan vegan.
Mengutip laman Japanesecooking.patia-kithen, berbeda dari jenis sushi lainnya, Inari sushi terbuat dari kulit tahu yang menyerupai kantong yang disebut abura-age. Kulit tofu ini diberi rasa manis, gurih dan juicy lalu diisi dengan nasi.Proses pembuatannya cukup sederhana, namun menghasilkan cita rasa otentik Jepang yang lezat dan mudah dinikmati siapa saja, kapan saja. Seringkali sajian ini dikonsumsi sebagai snack atau hidangan tambahan saat makan siang atau makan malam.
Di balik kesederhanaannya, masakan Jepang ini menyimpan sejarah panjang. Nama Inari sendiri diambil dari nama dewa Shinto, Inari, yang dikenal menyukai tahu. Hal ini menjelaskan mengapa tahu menjadi bahan utama dalam hidangan ini. Popularitasnya di Jepang tak perlu diragukan lagi, Inari sushi mudah ditemukan di berbagai tempat, mulai dari supermarket hingga konbini (toko serba ada), bahkan menjadi pilihan populer untuk bekal makan siang (bento).
Keunggulan Inari sushi terletak pada fleksibilitasnya. Sebagai hidangan vegetarian, bahkan bisa menjadi vegan jika kita cermat memilih bahan tambahan. Kemudahan dalam penyajian dan pembawaannya juga menjadi nilai tambah, cocok untuk berbagai kesempatan, baik sebagai camilan ringan maupun hidangan utama.

