:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5168204/original/040820400_1742403556-amanda-dalbjorn-fvInY-Gh7sc-unsplash.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Milia, bintil atau benjolan kecil berwarna putih kekuningan di wajah ini kerap keliru dikira sebagai komedo. Namun, berbeda dari komedo, kondisi kulit umum ini sering muncul tanpa disadari, terutama di sekitar hidung, pipi, dan bawah mata. Benjolan-benjolan kecil ini sebenarnya adalah kista berisi keratin (sel kulit mati), protein pembentuk lapisan luar kulit.
Milia bisa muncul pada siapa saja, kapan saja, dan di mana saja di tubuh, meskipun lebih sering di wajah. Lalu, apa penyebabnya dan bagaimana mengatasinya?
Penyebab pasti milia masih belum sepenuhnya dipahami, namun umumnya dikaitkan dengan penumpukan keratin yang terperangkap di bawah permukaan kulit. Beberapa faktor meningkatkan risiko munculnya milia, antara lain penggunaan produk perawatan kulit yang menyumbat pori-pori, kurang tidur, paparan sinar matahari berlebihan, kondisi kulit lain seperti rosacea atau eksim, bahkan faktor genetik juga berperan. Intinya, milia adalah kondisi yang kompleks dan penyebabnya bisa beragam.
Milia dibedakan menjadi dua jenis: milia primer dan milia sekunder. Milia primer, seperti milia neonatorum pada bayi baru lahir, muncul tanpa sebab yang jelas. Sementara milia sekunder muncul akibat kondisi kulit lain atau cedera. Jika hanya ada satu benjolan, disebut milium, sedangkan jika muncul berkelompok, disebut milia. Diagnosis milia biasanya dilakukan melalui pemeriksaan fisik oleh dokter, dan biopsi kulit jarang diperlukan kecuali ada keraguan diagnosis.


