:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4326469/original/004497300_1676538163-fccf015d-35e4-4c61-8ac2-ba5b9b71fbe7.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta Masih ada orangtua yang menganggap anak dengan autisme akibat guna-guna. Alhasil, anak malah dibawa ke dukun. Padahal anak dengan autisme perlu mendapatkan terapi tepat secara medis untuk mendapatkan hasil yang baik.
“Ada beberapa pasien yang datang saat usia 8 atau 9 tahun, ketika ditanyakan alasan baru sekarang ke dokter, menjawab karena kata dukun atau orang tua atau sesepuh mengatakan anak tersebut diguna-guna. Jadi, ke pengobatan tradisional atau ke dukun,” kata dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang Hanna Dyahferi Anomasari mengungkapkan pengalaman di ruang praktiknya.
Hanna menyayangkan orangtua yang sudah mendapati red flags autisme pada anak tapi malah ke dukun atau pengobatan tradisonal. Termasuk ada orangtua dengan tingkat pendidikan S1 masih ada yang memahami bahwa kondisi tersebut akibat guna-guna.
Padahal jika sudah ada red flags, lalu dari diagnosa profesional menunjukkan anak mengalami autisme kemudian diterapi, hasilnya akan lebih baik.
“Sangat disayangkan. Semakin dini mendeteksi lalu memberikan intervensi maka hasil lebih bagus,” kata dokter yang praktik di area Surabaya, Jawa Timur ini dalam media briefing Skrining dan Terapi Autisme pada Anak bersama IDAI pada Selasa, 15 April 2025.
Ia pun berharap awaraness tentang autisme mulai dari red flags hingga tata laksana bisa diketahui banyak orang sehingga anak bisa mendapatkan diagnosis lebih cepat.Â
Â

