:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5188784/original/036425400_1744710364-0W4A4736.JPG)
Kondisi mata juling pada anak yang tidak segera ditangani berisiko berkembang menjadi ambliopia atau mata malas. “Kalau julingnya menetap, penglihatan salah satu mata bisa tidak berkembang dengan baik. Ini berdampak pada kualitas hidup anak ke depannya,” jelas Dr. Gusti.
Mata malas itu seperti apa? Consultant Pediatric Ophthalmology and Strabismus JEC Eye Hospitals & Clinics, Dr. Devina Nur Annisa, SpM(K), menjelaskan, mata malas pada anak merupakan gangguan penglihatan yang tidak bisa dilihat secara kasat mata.
“Mata malas atau amblyopia adalah ketidakmampuan fungsi melihat anak untuk mencapai level penglihatan terbaik, meskipun sudah diberikan koreksi kacamata secara maksimal,” ujar dr. Devina kepada Health Liputan6.com di kesempatan yang sama.
Dr. Devina menegaskan bahwa amblyopia bukanlah kondisi yang dibawa sejak lahir, melainkan akibat dari keterlambatan dalam mendeteksi dan menangani faktor risikonya.
“Ini bukan masalah nasib atau sesuatu yang dibawa dari lahir. Mata malas terjadi karena adanya faktor risiko yang tidak segera dikoreksi, seperti kebutuhan kacamata yang tidak terpenuhi sejak dini,” ujarnya.
Jadi, meskipun tampak sehat secara fisik, anak bisa saja mengalami mata malas tanpa disadari jika tidak dilakukan pemeriksaan rutin terhadap fungsi penglihatannya.
Maka dari itu, penting mengenali bagaimana cara mendeteksi awal anak yang terkena mata juling sedini mungkin.

