:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5235711/original/041485600_1748429960-20250528-Hewan_Kurban-ANG_4.jpg)
Liputan6.com, Jakarta Dosen Fakultas Peternakan IPB University, Dr Salundik mengatakan limbah hewan kurban harus ditangani dengan baik. Jika tidak dapat mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat.
“Limbah ternak yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak lingkungan serius. Mulai dari bau menyengat, serbuan lalat, hingga gangguan estetika, terutama karena lokasi penjualan hewan kurban umumnya berada di area perkotaan yang padat,” kata Salundik.
Lebih lanjut, Salundik mengatakan limbah ternak jelang Idul Adha terbagi dua yakni limbah di lokasi penjual dan limbah di lokasi penyembelihan.
Di lokasi penjualan kambing maupun sapi, limbah yang dihasilkan berupa kotoran (feses) dan sisa pakan hijau. Bisa dibayangkan akumulasi limbah dalam satu sampai dua pekan jelang hari raya Idul Adha akan besar sekali.
Salundik mencontohkan, jika terdapat 50 ekor sapi dengan produksi kotoran rata-rata 20 kg per ekor per hari. Maka dalam 20 hari akan terkumpul limbah kotoran 20 ton.
Terkait limbah kotoran hewan kurban dan sisa pakan, menurutnya dapat dikonversi menjadi produk yang lebih bermanfaat, seperti pupuk organik kompos atau vermikompos.
“Ini adalah solusi yang paling mudah diterapkan dan memberikan nilai tambah,” ungkap Salundik mengutip laman resmi IPB, Minggu, 1 Juni 2025.


