:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5288206/original/026179200_1752898538-Screenshot_2025-07-19_111430.jpg)
Meski belum ada laporan signifikan, Wahid menyebut risiko akan meningkat jika fenomena berlangsung lebih lama dari biasanya.
Ia menegaskan, masyarakat perlu mewaspadai efek jangka pendek yang sering terabaikan. “Bukan hanya tubuh yang menggigil, tapi juga ketahanan tubuh yang menurun.”
“Tak ada rekomendasi kebijakan khusus, namun perlu meningkatkan edukasi publik. Minimal, masyarakat perlu rutin memantau prakiraan cuaca, memakai pakaian hangat saat malam, dan menjaga daya tahan tubuh lewat pola makan sehat dan vitamin,” imbaunya.
Dokter sekaligus ahli kesehatan lingkungan, Dicky Budiman, menyampaikan bahwa perubahan suhu ekstrem memang dapat melemahkan daya tahan tubuh.
“Perubahan suhu ekstrem antara siang dan malam dapat melemahkan daya tahan tubuh,” ujar Dicky lewat pesan suara kepada Health Liputan6.com.
Kondisi cuaca seperti ini, sambungnya, akan mendorong masyarakat untuk beraktivitas atau berkumpul di dalam ruangan tertutup terutama saat hujan.
“Ini juga meningkatkan transmisi virus. Namun, itu semua bisa diminimalisir dengan personal hygiene, pakai masker, membuka ventilasi,” terangnya.

