:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5201820/original/034737200_1745836480-front-view-young-woman-being-disappointed_23-2148212450.jpg)
Mata kita dirancang untuk melihat objek nyata dalam berbagai jarak, bukan untuk menatap layar digital berjam-jam tanpa jeda.
Saat kita menatap layar, otot mata terus bekerja untuk fokus apalagi jika huruf di layar tidak setajam teks cetak. Pantulan cahaya dari layar, kontras rendah, serta kecerahan yang terlalu tinggi atau terlalu rendah juga membuat mata bekerja lebih keras.
Selain itu, banyak orang menatap layar dari posisi yang kurang ideal, seperti terlalu dekat, terlalu rendah, atau tidak sejajar dengan pandangan mata.
Hal ini memaksa tubuh mengadopsi postur yang tidak nyaman, yang bukan hanya melelahkan mata, tapi juga bisa menyebabkan nyeri leher dan bahu. Terlebih lagi jika pengguna memiliki masalah mata yang belum diketahui, seperti rabun jauh atau astigmatisme.
Yang lebih mengejutkan, penelitian menemukan bahwa saat menatap layar, kita berkedip jauh lebih sedikit dari biasanya. Kurangnya frekuensi berkedip menyebabkan permukaan mata menjadi mudah iritasi.Â

