:strip_icc()/kly-media-production/medias/4613173/original/017589700_1697511054-_fpdl.in__young-couple-feeling-unhappy-their-relationship-ignoring-each-other-after-quarrel-bedroom_637285-1650_normal.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Ungkapan ‘diam itu emas’ memang familiar, tapi dalam hubungan, diam tidak selalu menandakan hal yang baik. Psikolog menekankan bahwa makna diam sangat bergantung pada konteks. Ada perbedaan signifikan antara diam untuk menenangkan diri dan silent treatment yang merusak hubungan.
Melansir dari Verywell Mind pada Senin, 29 Desember 2025, silent treatment terjadi ketika seseorang sengaja menolak berkomunikasi untuk mengontrol, menghukum, atau menunjukkan kuasa dalam hubungan. Berbeda dengan diam sementara yang dilakukan untuk berpikir jernih, silent treatment bersifat manipulatif dan berpotensi merusak ikatan emosional pasangan.
Dalam hubungan sehat, diam dapat menjadi hal yang wajar. Misalnya, saat emosi sedang memuncak, salah satu atau kedua pasangan memilih mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri.
Biasanya, ada kesepakatan bahwa topik tersebut akan dibahas kembali di lain waktu. Diam juga bisa menjadi bentuk perlindungan diri, terutama dalam situasi yang mengandung kekerasan verbal atau emosional.
Dengan kata lain, diam yang digunakan untuk menenangkan diri atau merenung bukan silent treatment. Yang membedakan adalah niat dan tujuan. Silent treatment adalah penolakan total untuk membahas masalah, baik sekarang maupun nanti.


