:strip_icc()/kly-media-production/medias/5483792/original/090220700_1769403501-depresi.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Sekitar 28 juta orang Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI pada Selasa, 20 Januari 2026.
Pernyataan ini mendapat tanggapan dari dosen Fakultas Kedokteran IPB University sekaligus psikiater, dr Riati Sri Hartini, SpKJ, MSc,. Menurutnya, pernyataan ini masih masuk akal.
Riati mengatakan, berbagai data memang menunjukkan banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan. Namun demikian, dia menekankan bahwa angka tersebut perlu dipahami secara hati-hati.
“Angka itu sangat bergantung pada apa yang dimaksud dengan masalah kejiwaan dan dari data tahun berapa angka tersebut diambil,” ujarnya seperti mengutip laman IPB University, Bogor, Senin (26/1/2026).
Riati menambahkan, terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kejiwaan, mereka adalah:
Anak dan Remaja
Anak dan remaja yang masih berada dalam masa perkembangan emosi dan identitas, serta rentan terhadap tekanan sekolah, pergaulan, perundungan, dan pengaruh media sosial.
Pekerja
Kelompok usia produktif atau pekerja. Tuntutan kerja, target, persaingan, serta masalah ekonomi keluarga yang kerap mereka hadapi dapat memicu stres, kecemasan, dan depresi.
Perempuan
Perempuan dinilai lebih rentan alami masalah kejiwaan akibat faktor biologis seperti hormonal, peran ganda di rumah dan tempat kerja, serta tekanan relasi dan kekerasan psikologis.


