:strip_icc()/kly-media-production/medias/5084738/original/064036300_1736341686-20250108-Tjandra_Yoga_Aditama-ANG_9.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Liputan6.com pada 10 Februari 2026 menurunkan berita berjudul “Dengue Jadi Cermin Kesenjangan Sistem Kesehatan ASEAN, Bukan Sekadar Penyakit”, dalam kaitan acara Forum Regional Asia Tenggara untuk Pencegahan dan Pengendalian Dengue di Hotel JW Marriott Jakarta.
Hal itu mengingatkan saya pada 2011 ketika itu sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyelenggarakan ASEAN Dengue Conference, yang menghasilkan “Jakarta Call for Action on Combating Dengue”. Hal itu dicanangkan pada saat peluncuran resmi Hari Dengue ASEAN atau ASEAN Dengue Day pada 15 Juni 2011 di Museum Nasional Jakarta. Peringatan hari Dengue ASEAN 2011 di Jakarta ini adalah yang pertama kali dilakukan.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa pada 2025 tercatat 161.752 kasus Dengue dengan 673 kematian artinya angka kematian (case fatality rate/CFR) 0,42%. Kalau kita lihat angka dunia, maka menurut artikel ilmiah Global dengue epidemic worsens with record 14 million cases and 9000 deaths reported in 2024 yang dipublikasikan dalam International Journal of Infectious Diseases September 2025 maka angka kematian dengue di dunia adalah 0.07%. Jadi angka kematian di negara kita masih cukup tinggi, sehingga untuk mencapai target “Zero Dengue Deaths” di tahun 2030 tentu memerlukan perjuangan yang amat keras.
Secara umum maka setidaknya ada lima langkah penting dalam pengendalian dengue:
Pertama dan utama adalah pengendalian vektor, dalam hal ini nyamuk.
Ada tiga faktor utama disini, penerapan 3M plus secara konsisten dilakukan, upaya maksimal pengelola kesehatan dan partisipasi aktif masyarakat.
Kedua, surveilans yang baik. Tentu program perlu disesuaikan dengan fluktuasi perubahan iklim dari waktu ke waktu.


