:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5502910/original/045481800_1771055462-obat.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta – Kepatuhan minum obat menjadi penentu keberhasilan pengobatan. Sayangnya, dalam konsumsi obat, masih ada pasien yang tidak mematuhi aturan dan anjuran.
Guru Besar Ilmu Farmasi Praktis Universitas Airlangga (UNAIR), Profesor Yunita Nita mengatakan, permasalahan ketidakpatuhan konsumsi obat bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor pasien, terapi, sistem kesehatan, dan kondisi sosio ekonomi.
“Ketidakpatuhan bisa bersifat disengaja ketika pasien menolak atau mengubah pengobatan. Dan tidak disengaja, ketika pasien gagal mengikuti pengobatan meski berniat melakukannya,” kata Yunita di Surabaya, Kamis (12/2/2026) seperti mengutip laman UNAIR.
Ketidakpatuhan minum obat tidak boleh dianggap remeh karena dapat menimbulkan konsekuensi. Pada kondisi kronis seperti hipertensi, gula darah tinggi, dan penyakit ginjal, ketidakpatuhan minum obat dapat menyebabkan peningkatan kerusakan organ. Sedangkan pada aspek mental, melewatkan pengobatan dapat memperburuk gejala sehingga menurunkan kualitas hidup, meningkatkan angka rawat inap, hingga memicu bunuh diri.
Tak hanya berdampak klinis, Yunita mengungkapkan bahwa ketidakpatuhan terhadap terapi juga menimbulkan beban finansial sistem kesehatan. Menjawab tantangan itu, peran apoteker sudah seharusnya bergeser dari sekadar berorientasi pada produk, menjadi berorientasi pada perawatan pasien (patient-oriented care).
“Perubahan paradigma ini terbukti mampu meningkatkan kepatuhan pasien sekaligus memperbaiki luaran klinis dan kualitas hidup,” kata Yunita.

