:strip_icc()/kly-media-production/medias/5177593/original/020614500_1743217179-2bbdbe92-88f5-4db1-a02f-511f4b3352d8.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Diabetes dapat memengaruhi berbagai organ tubuh, termasuk ginjal. Dalam jangka panjang, diabetes yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan ginjal.
Menurut dokter spesialis penyakit dalam, Elyanawati, hubungan antara diabetes dan kesehatan ginjal bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Prosesnya berlangsung perlahan, sering kali tanpa gejala pada tahap awal. Karena itu, pemahaman mengenai bagaimana diabetes memengaruhi ginjal menjadi bagian penting dalam pengelolaan penyakit ini.
Ginjal berfungsi menyaring limbah dan kelebihan cairan dari darah. Pada kondisi diabetes, kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah kecil di dalam ginjal. Kerusakan ini membuat kemampuan penyaringan ginjal menurun secara bertahap.
“Kadar gula darah yang tidak terkontrol pada diabetes menyebabkan tekanan berlebih pada unit penyaring ginjal yang disebut glomerulus. Lama-kelamaan, struktur ini dapat mengalami penurunan fungsi. Kondisi inilah yang dikenal sebagai nefropati diabetik, salah satu komplikasi kronis dari diabetes,” kata dokter yang berpraktik di RS EMC Alam Sutera, mengutip laman EMC, Rabu (25/2/2026).
Gangguan ginjal akibat diabetes sering berkembang secara perlahan. Pada tahap awal, pengidap diabetes mungkin tidak merasakan keluhan apa pun. Namun seiring waktu, fungsi ginjal bisa semakin menurun.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal pada pasien diabetes adalah:
- Diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang
- Tekanan darah tinggi yang menyertai diabetes
- Riwayat keluarga dengan penyakit ginjal
- Gaya hidup kurang aktif
- Kebiasaan merokok.


