:strip_icc()/kly-media-production/medias/4790967/original/028412300_1711973330-20240401-Kepadatan_Pasar_Tanah_Abang-HER_1.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Godaan selama puasa Ramadan tidak hanya hadir dalam bentuk lapar dan dahaga tapi juga keinginan untuk berbelanja.
Pakar Perilaku Konsumen Profesor Megawati Simanjuntak tak memungkiri, setiap Ramadan, godaan belanja terasa semakin besar. Mulai dari promo hampers, diskon baju Lebaran, hingga berbagai hal yang kerap berujung pada belanja berlebih. Tanpa disadari, semangat Bulan Suci justru kerap berubah menjadi perilaku konsumtif.
Pakar dari IPB University itu menilai bahwa Ramadan kerap menjadi periode rawan terjadinya pembelian berlebihan (overbuying). Menurutnya, kondisi ini berlawanan dengan esensi puasa yang sejatinya mengajarkan kesederhanaan.
“Overbuying adalah perilaku membeli barang atau jasa secara berlebihan tanpa mempertimbangkan kebutuhan yang sebenarnya. Perilaku ini sering terjadi saat Ramadan dan lebih banyak membawa dampak negatif,” jelasnya mengutip laman resmi IPB, Sabtu (28/2/2026).
Ia mencontohkan, perilaku konsumtif paling sering terlihat menjelang waktu berbuka puasa. Berbagai hidangan disiapkan secara berlebihan, mulai dari makanan berat hingga aneka takjil seperti gorengan, kolak, es buah, dan kurma. Ujungnya banyak makanan yang tersisa dan menjadi limbah.
“Sering kali makanan yang tersedia di meja berbuka jumlahnya jauh melebihi yang diperlukan tubuh. Ini tidak baik dari sisi kesehatan maupun pengeluaran,” ujarnya.
Dari sisi psikologis, psikiater dari Amerika Serikat, Joel L. Young M.D., mengatakan bahwa kebiasaan belanja berlebihan membuat seseorang sulit membedakan, apakah pengeluaran memang sudah berlebihan atau malah sudah di luar kendali.
“Pengeluaran kompulsif dapat membuat Anda terlilit utang, merusak hubungan Anda, dan menyebabkan depresi, kecemasan, rendah diri, dan masalah kesehatan mental lainnya,” kata Joel mengutip Psychology Today.


