:strip_icc()/kly-media-production/medias/2363289/original/096455500_1537407636-20180919-Pemprov-Aceh-Akhirnya-Bolehkan-Vaksinasi-MR--AFP-1.jpg)
Sementara itu, rincian kasus campak sepanjang 2025 yakni sebanyak 1.310 setara 72,54 persen kasus campak terbanyak dicatat ditemukan di rumah sakit. Sisanya ditemukan 482 kasus (26,69 persen) di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), tidak ada keterangan 11 kasus (0,61 persen), dinas kesehatan dua kasus (0,11 persen) dan bidan satu kasus (0,06 persen).
Kasus campak di 2025 tersebut terbanyak menyerang 905 kasus kelompok usia 1-4 tahun.
Disusul 510 kasus di kelompok usia 5-9 tahun, 257 kasus kelompok usia kurang dari 1 tahun, 76 kasus kelompok usia 10-14 tahun dan 56 kasus kelompok usia 15 dan lebih dari 15 tahun.
Dinas Kesehatan Jawa Barat menduga kenaikan kasus campak pada 2025 merupakan imbas bayi-bayi pada saat pandemi COVID-19 tidak mendapatkan imunisasi campak.
“Kami menduga bahwa ini adalah ‘panen’ ya, gara-gara banyaknya anak-anak atau bayi-bayi yang tidak diimunisasi di zaman COVID. Kita tahu pada saat COVID banyak posyandu (pos pelayanan terpadu) tutup sehingga capaian imunisasi sangat drop. Nah, sekarang ‘panennya’,” terang Yus.
Melihat tren kasus suspek campak masih tinggi, Yus meminta kepada tenaga kesehatan untuk mengingatkan orangtua untuk mengimunisasi bayi sejak baru lahir.
“Ini untuk di menjadi perhatian terutama kader ya, agar selalu bayi baru kemudian di pastikan bahwa mereka itu mengimunisasikannya,” sebut Yus.
Â


