:strip_icc()/kly-media-production/medias/5517525/original/054968600_1772431208-pch.vector.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Gangguan komunikasi sosial social communication disorder atau SCD adalah gangguan perkembangan yang memengaruhi kemampuan anak dalam menggunakan bahasa untuk berinteraksi secara sosial.
Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berbicara secara teknis, melainkan pada pemahaman, penafsiran, dan menggunakan bahasa dalam konteks sosial, seperti bergiliran berbicara, memahami isyarat nonverbal, hingga menyesuaikan cara berbicara dengan lawan bicara.
Anak yang mengalami SCD, akan kesulitan saat berbicara dengan teman sebaya. Peneliti senior dari University of Manchester di Inggris, Catherine Adams, menjelaskan bahwa SCD mempengaruhi interaksi sosial.
“Gangguan komunikasi sosial bukan sekadar keterlambatan berbicara, tetapi tentang bagaimana anak memahami tujuan komunikasi dan menggunakannya secara efektif dalam interaksi sosial,” ujarnya dikutip dalam Very Well Mind pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Tanda-Tanda Anak Mengalami SCD
Tanda-tanda SCD umumnya mulai terlihat ketika anak memasuki usia prasekolah, atau ketika tuntutan interaksi sosial meningkat.
Anak akan tampak kesulitan memulai atau mempertahankan percakapan, tidak memahami giliran berbicara, serta kesulitan menyesuaikan bahasa dengan situasi yang berbeda.
Selain itu, anak dengan SCD sering kali tidak memahami humor, sindiran, atau makna kiasan. Mereka cenderung menafsirkan bahasa secara harfiah, sehingga bisa menimbulkan kesalahpahaman dalam komunikasi.
“Anak dengan SCD sering memahami kata-kata apa adanya, sehingga mereka kesulitan menangkap maksud kiasan dalam percakapan sehari-hari,” ujarnya.
Gejala lain yang sering muncul meliputi kurangnya kontak mata, kesulitan memahami ekspresi wajah atau bahasa tubuh, serta ketidakmampuan menyesuaikan gaya komunikasi sesuai dengan lawan bicara misalnya berbicara dengan kakek sama seperti berbicara dengan teman sebaya.


