:strip_icc()/kly-media-production/medias/5272874/original/027738700_1751602933-cek_tekanan_darah_.jpg)
Saat seseorang mengalami jantung berdebar, bisa saja bukan aritmia. Bisa debaran yang wajar yang biasanya setelah mengonsumsi kafein berlebih, berolahraga berat atau saat stres, jatuh cinta, takut, atau panik. Biasanya, irama jantung akan kembali normal setelah pemicu hilang.
“Untuk yang bahaya biasanya muncul secara tiba-tiba tanpa pemicu yang jelas, bertahan dalam waktu lama, atau disertai dengan gejala fisik lainnya. Ini menandakan adanya gangguan pada sirkuit listrik jantung yang memerlukan pemeriksaan medis,” tutur Evan.
Untuk menegakkan diagnosis biasanya dokter akan menyarankan metode screening elektrokardiogram (EKG) untuk merekam aktivitas listrik jantung dalam waktu singkat. Namun, ada kalanya irama jantung tak beraturan kadang muncul kadang tidak, maka perlu dipasang Holter monitoring.
“Alat kecil yang dipasang pada tubuh selama 24–48 jam (atau lebih) untuk merekam setiap detak jantung saat Anda beraktivitas normal hingga tidur. Ini sangat efektif menangkap gangguan yang tidak muncul saat pemeriksaan EKG biasa,” tutur Evan.
Lalu, ada event recorder, mirip dengan Holter, namun digunakan dalam jangka waktu lebih lama (mingguan) untuk pasien yang gejalanya muncul sangat jarang.
Jika memang tegak diagnosis aritmia, maka perlu dilakukan tindakan.Salah satu metode pengobatan populer adalah ablasi jantung yakni prosedur minimal invasif.
“Pada penanganan ini, dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) juga telah membantu banyak orang kembali beraktivitas,” katanya.


