:strip_icc()/kly-media-production/medias/4092396/original/068296100_1658138375-jason-goodman-BAanEbxe9No-unsplash.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Candaan kerap dianggap hal biasa dalam interaksi sehari-hari, termasuk di media sosial. Namun, tidak semua candaan bisa diterima begitu saja terutama jika mulai menimbulkan rasa tidak nyaman.
Psikolog klinis Phoebe Ramadina mengatakan ketika seseorang sudah merasa tidak nyaman ketika bercanda itu bisa menjadi indikator awal adanya pelecehan seksual, baik secara verbal maupun daring. Menurutnya, pelecehan tidak selalu muncul dalam bentuk yang jelas, tetapi sering kali terselubung dan disamarkan sebagai gurauan atau pujian.
“Indikator paling penting untuk diingat dan perlu diwaspadai sebagai pelecehan seksual adalah rasa tidak nyaman yang dirasakan korban, meskipun perilaku tersebut belum tampak ‘jelas’ sebagai pelecehan secara kasat mata,” kata Phoebe mengutip Antara.
Pelecehan seksual di media sosial seringkali muncul dalam bentuk yang halus dan terselubung sehingga mudah disalahartikan sebagai candaan atau pujian. Tidak jarang, ketika korban mulai merasa tidak nyaman, pelaku justru merespons dengan meremehkan perasaan tersebut, seperti mengatakan “hanya bercanda” atau “jangan dibawa perasaan”.
Phoebe mengatakan menunjukkan ketidaknyamanan terhadap candaan yang menjurus pada pelecehan merupakan bagian penting dari menjaga batasan diri, meskipun seringkali tidak mudah dilakukan.
Ia mengatakan penting juga untuk menyadari bahwa rasa tidak nyaman adalah alasan yang cukup untuk menetapkan batasan, tanpa perlu menunggu situasi menjadi lebih parah.
Kemampuan ini berkaitan dengan keterampilan asertif, yaitu kemampuan untuk menyuarakan kebutuhan dan batasan diri secara sehat.
“Dari sudut pandang korban, hal ini bisa dimulai dengan menyampaikan secara langsung dan spesifik, seperti mengatakan bahwa komentar tersebut membuat tidak nyaman dan meminta agar tidak diulangi. Penyampaian jelas dan tegas seringkali lebih efektif,” katanya.


