:strip_icc():watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,573,20,0)/kly-media-production/medias/5569680/original/061677300_1777450375-Piprim__4_.jpeg)
Liputan6.com, Jakarta – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memberi tanggapan soal kasus kekerasan pada anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta.
“Tentu ini sangat tidak bisa diterima. Ada anak diikat, ditelanjangi, itu kayak binatang perilakunya tidak mengenal perikemanusiaan apalagi pada anak. Kami sangat menyesalkan, kejadian ini jangan terulang lagi tapi malah terulang lagi di Aceh,” kata Ketua IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, dalam diskusi daring pada Rabu (29/4/2026).
Seperti diketahui, usai kasus di Yogyakarta, kekerasan pada anak juga kembali terjadi di salah satu taman penitipan anak (TPA) di Aceh.
“Dengan berbagai fenomena tersebut kita tidak bisa berdiam diri saja, kita harus mencegah bagaiamana agar setiap daycare itu diawasi oleh pakar, CCTV sangat penting, jangan sampai tergiur oleh promosi yang tidak benar atau tergiur harga murah, intinya ini tidak boleh terulang lagi,” ujar Piprim.
Dia juga berpesan kepada orang tua agar lebih memiliki kesadaran soal tanda kekerasan yang terjadi pada anak, baik tanda fisik maupun psikis.
“Buat orang tua, memang perlu lebih aware soal tanda kekerasan pada anak, baik tanda fisik mau psikis, misalnya kalau anak menolak dan ketakutan saat diajak ke daycare,” katanya.
“Paling utama adalah pencegahan karena traumanya bisa mandalam dan membekas. Mudah-mudahan semua pihak ikut terus mengawal,” tambahnya.


