:strip_icc()/kly-media-production/medias/5059102/original/016729100_1734691572-Screenshot_2024-12-20_173615.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Screen time seperti menggunakan handphone, tablet dan televisi sebaIKNya baru diberikan ketika anak berusia di atas dua tahun dengan total durasi satu jam per hari. Namun, pendampingan saja tak cukup perlu juga didampingi.
Selama menonton, pastikan untuk mengajak anak berinteraksi dengan cara membahas tayangan yang sedang dilihat, sehingga anak tidak hanya terbiasa menjadi pendengar saja.
Kemudian sebelum menonton, tentukan maksud dan tujuan anak diperbolehkan melihat tayangan yang diberikan. Orang tua atau pengasuh perlu memperhatikan lamanya durasi dari tayangan itu.
“Misal satu episode kartun itu 30 menit, setelah selesai, matikan televisinya. Bukannya sudah selesai, ditanya mau nonton apa sekarang di Youtube,” ucap dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak Amanda Soebadi.
Orang tua juga dianjurkan untuk tidak terlalu lama menggulir layar yang menampilkan tontonan secara cepat, karena otak anak masih berkembang.
Setelah screen time pengasuh mesti menyiapkan kegiatan yang berkualitas. Misalnya dengan mengajak berbicara saat makan, bermain puzzle atau menyusun balok. Seluruh kegiatan itu dapat membantu mengembangkan otak anak lebih maksimal.
“Jadi tidak bisa, pokoknya gadget-nya diambil saja, habis itu terserah anak mau ngapain. Kegiatan pengganti yang ideal itu memang kalau anak bisa bermain interaktif dengan pengasuhnya,” ucap Amanda mengutip Antara.


