:strip_icc()/kly-media-production/medias/5571661/original/073550300_1777685117-Screenshot_2026-05-02_082410.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Seseorang yang sudah pernah terkena cacar air yang sudah sembuh tapi virus penyebab cacar air tidak hilang. Virus Varicella zoster (VZV) ‘tidur’ di dalam tubuh dan bisa ‘bangun’ saat imunitas tubuh rendah.
“Kalau kita sudah kena cacar air, virus ini enggak hilang tapi tidur di ujung saraf, letaknya persis dekat dengan tulang belakang,” tutur dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan, Vito A. Damay.
“Saat imunitas tubuh turun, baru keluar menjadi cacar api,” tutur Vito lagi dalam konferensi pers peringatan Pekan Imunisasi Sedunia “Cegah Cacar Api Tanpa Tapi” bersama GSK pada Selasa, 28 April 2026.
Vito menjelaskan gejala antara cacar air dan cacar api berbeda. Cacar air biasanya diawali dengan demam seringkali lebih dari 38 derajat Celsius lalu timbul bintik merah yang cepat berubah menjadi lenting berisi cairan.
Sementara cacar api justru kerap muncul dengan nyeri hebat di satu sisi tubuh tanpa gejala awal yang jelas. Rasa nyeri ini bahkan bisa disalahartikan sebagai serangan jantung jika muncul di area dada, atau gangguan pencernaan jika terasa nyeri di perut.
“Pasien sering merasa tubuhnya baik-baik saja, tapi tiba-tiba muncul nyeri hebat. Ini yang membuat banyak orang tidak sadar bahwa itu sebenarnya cacar api,” kata dia.
Beberapa hari kemudian, barulah muncul lepuhan berisi cairan di area yang terasa nyeri. Pada fase ini, keluhan biasanya semakin mengganggu karena rasa sakitnya bisa cukup intens hingga menghambat aktivitas sehari-hari.
Di masyarakat, cacar api juga dikenal dengan berbagai sebutan seperti herpes zoster, cacar ular, atau dompo. Meski namanya berbeda, penyakit ini merujuk pada kondisi yang sama, yakni reaktivasi virus Varicela zoster yang “tidur” di dalam tubuh.


