Hujan Abu Anak Krakatau, Kesehatan dan Pendidikan Warga Terancam
Keluhan seputar dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terus mengemuka di berbagai komunitas. Salah satunya datang dari Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat. Dia memutuskan untuk mengunjungi Pos PGA Anak Krakatau guna mendapatkan informasi langsung mengenai status dan kondisi gunung tersebut. Hal ini dilakukan guna menginformasikan secara akurat kepada siswa dan orang tua murid terkait situasi terkini Gunung Anak Krakatau.
Debu Vulkanik Mengganggu Kesehatan dan Aktivitas
Ajat mengakui bahwa sebaran abu vulkanik telah mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Dalam perjalanannya, ia merasakan kesakitan pada tenggorokan jika tidak menggunakan masker. Mata pun terasa perih jika tidak dilindungi kacamata. Meskipun dari udara tampak bersih, debu-debu vulkanik yang menumpuk di sekitar Pos Pemantauan Krakatau benar-benar terlihat jelas.
Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menimbulkan dampak fisik, tetapi juga dampak psikologis di tengah masyarakat. Hal ini berdampak pada jumlah siswa di sekolah yang menjadi semakin sepi. Meski mayoritas warga Pasauran merasa bahwa suara gemuruh dan dentuman erupsi sudah menjadi hal biasa, namun tidak sedikit yang memilih untuk mengamankan diri sendiri.
Warga Ambil Langkah Precaution
Meskipun mayoritas warga Pasauran menganggap erupsi Gunung Anak Krakatau sebagai hal yang biasa, sebagian kecil tetap memilih untuk mengamankan diri dengan berpindah ke daerah pegunungan. Tindakan pencegahan ini dilakukan guna memastikan keselamatan dan kesehatan keluarga mereka di tengah kondisi yang tidak menentu akibat erupsi tersebut.


