:strip_icc()/kly-media-production/medias/5103001/original/081241500_1737448974-1737446766261_arti-sleep-call.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Tidur sambil melakukan sleep call kini menjadi kebiasaan banyak orang, terutama pasangan yang sedang menjalin hubungan jarak jauh (LDR). Ponsel dibiarkan menyala, panggilan aktif berjam-jam, bahkan diletakkan sangat dekat dengan kepala. Kebiasaan ini sering dianggap aman karena hanya menemani tidur, padahal berpotensi mengganggu kualitas istirahat.
Melansir dari Home Sleep pada Rabu, 17 Desember 2025, selama sleep call layar ponsel kerap tetap aktif atau menyala berkala akibat notifikasi dan perubahan cahaya. Paparan cahaya buatan di malam hari, meski tidak selalu terang, dapat mengganggu ritme alami tubuh. Selain itu, keberadaan ponsel di dekat tubuh membuat otak tetap siaga, seolah masih berada dalam kondisi sosial aktif.
Tidur idealnya adalah fase pemulihan total bagi tubuh dan pikiran. Ketika tidur disertai sleep call, tubuh memang terpejam, tapi otak belum sepenuhnya beristirahat. Kondisi ini dapat menyebabkan tidur terasa kurang nyenyak meski durasinya cukup, dan jika dilakukan berulang, berisiko menurunkan kualitas tidur jangka panjang.
Layar ponsel sering dituding sebagai penyebab utama gangguan tidur karena memancarkan cahaya biru yang dapat menekan produksi melatonin, hormon pengatur siklus tidur. Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa cahaya dari ponsel tidak selalu berdampak besar jika digunakan singkat dan dengan kecerahan rendah.


