:strip_icc()/kly-media-production/medias/4281493/original/094328400_1672826257-shutterstock_2002100096.jpg)
Teknik pernapasan 4-7-8 bekerja dengan memengaruhi sistem saraf otonom, khususnya dalam mengaktifkan respons relaksasi tubuh yang berperan penting dalam menurunkan tingkat stres.
Saat seseorang mengatur napas secara perlahan dan terkontrol, tubuh akan mengurangi aktivitas sistem saraf simpatik yang biasanya aktif saat kondisi tertekan atau cemas, dan beralih ke sistem saraf parasimpatik yang membantu tubuh menjadi lebih tenang.
“Dengan secara sadar memperlambat pernapasan, Anda mengirimkan pesan ke otak bahwa sudah waktunya untuk tenang dan rileks,” jelasnya.
Mekanisme ini membuat tubuh secara bertahap menurunkan detak jantung dan tekanan darah, sehingga menciptakan efek menenangkan.
Selain itu, fase menahan napas selama 7 detik memberikan kesempatan bagi paru-paru untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida.
Proses ini membantu meningkatkan efisiensi pernapasan sekaligus mendukung fungsi organ tubuh secara lebih optimal.
Hembusan napas yang lebih panjang dibandingkan tarikan napas, berperan dalam melepaskan ketegangan yang tersimpan, baik secara fisik maupun emosional.
Ritme napas yang konsisten juga membantu meningkatkan kesadaran tubuh mindfulness, sehingga pikiran menjadi lebih fokus dan tidak mudah terdistraksi oleh tekanan eksternal.
Jika sering dilakukan, latihan ini bisa membantu membentuk respons tubuh yang lebih stabil terhadap stres, sehingga seseorang menjadi lebih mampu mengelola emosi.


