:strip_icc()/kly-media-production/medias/5541354/original/071478300_1774860074-andi_saguni_2.jpg)
Andi mengatakan sebelum muncul gejala, AMW sempat menangani pasien campak di RSUD Pagelaran. Lalu, saat sudah mulai muncul keluhan gejala demam, flu dan batuk juga menangani kasus campak.
Berikut kronologi meninggalnya dokter internship di Cianjur:
8 Maret 2026
AMW berdinas menangani kasus campak di RSUD Pagelaran 18 Maret 2026AMW mengeluh demam, flu dan batuk. Ia pun meminta izin untuk dinas keesokan hari dan mendapatkan izin dari dokter pembimbing.
19 Maret 2026
AMW tetap datang untuk berdinas shift pagi selama tiga hari berturut-turut dan menangi kasus campak di tanggal 19 dan 21 Maret.
21 Maret 2026
Mulai timbul rash. Namun AMW tetap berdinas dan menangai supsek campak di IGD. Di hari itu, ia mengajukan cuti ke dokter pembimbing karena kondisi melemah. Dokter pembimbing pun memberikan izin cuti.
24 Maret 2025
AMW mengabari teman-teman lewat pesan tertulis bahwa terkena campak dengan menunjukkan ruam di tangan.
25 Maret 2025
Pukul 23.00 WIB, AMW masuk IGD RSUD Cimacan dibawa oleh keluarga dengan keluhan penurunan kesadaran 1 jam sebelumnya. Lalu, ia sempat mengalami sesak napas.
26 Maret 2026
Pukul 00.30 WIB, AMW dirujuk ke ICU.
Lalu, pukul 09.15 terjadi perburukan dan dilakukan intubasi.
Tak lama kemudian tepatnya pukuk 11.30 WIB AMW meninggal dunia dengan diagnosis campak dengan gangguan jantung dan otak.
27 Maret 2026
Usai kejadian itu, Kemenkes melakukan penyelidikan epidemiologi dengan Dinkes Provinsi Jawa Barat, Dinkes Kabupaten Cianjur, RSUD Cimacan dan RSUD Pagelaran.
Spesimen serum AMW kemudian dibawa ke Biofarma untuk diperiksa.
28 Maret 2026
Hasil pemeriksaan spesimen laboratorium lab Biofarma menunjukan positif campak.


