:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4210566/original/064918900_1667283991-Brain_Health.jpg)
Liputan6.com, Jakarta – Mikrobioma usus adalah komunitas mikroorganisme kompleks yang hidup di saluran pencernaan kita. Mereka ternyata memiliki peran yang sangat penting dalam kesehatan otak kita melalui apa yang dikenal sebagai sumbu usus-otak (gut-brain axis). Sumbu ini adalah jalur komunikasi dua arah antara usus dan otak, yang melibatkan berbagai jalur saraf, imun, dan hormonal.
Dalam artikel ini, kita akan membahas bagaimana mikrobiom usus memengaruhi kesehatan otak dan langkah-langkah yang dapat kita ambil untuk mendukungnya.
Mengutip BBC, selama beberapa dekade terakhir, para peneliti mulai mengungkap bukti yang aneh, namun meyakinkan – dan terkadang kontroversial – yang menunjukkan bahwa mikrobiota usus tidak hanya membantu menjaga otak kita agar tetap berfungsi dengan baik dengan membantu membebaskan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi, tetapi juga dapat membantu membentuk pikiran dan perilaku kita.
Temuan mereka bahkan berpotensi memperkuat cara kita memahami dan menghasilkan pengobatan baru untuk berbagai kondisi kesehatan mental, mulai dari depresi dan kecemasan hingga skizofrenia.
Adalah William Beaumont yang lebih dulu meneliti hubungan antara usus dan otak. Dia menemukan gagasan tentang “poros otak-usus” bahwa usus dan otak tidak sepenuhnya independen tetapi saling berinteraksi, dengan yang satu mempengaruhi yang lain dan sebaliknya. Kini, kita tahu bahwa mikroorganisme dalam usus membuat proses ini menjadi lebih rumit dan luar biasa.
“Semakin banyak penelitian yang mengungkapkan bahwa mikrobioma usus dapat memengaruhi otak dan perilaku berbagai hewan,” kata Elaine Hsiao, profesor madya biologi dan fisiologi integratif, di Universitas California, Los Angeles (UCLA).
John Cryan, profesor anatomi dan ilmu saraf di University College Cork mengatakan, “Penting untuk diingat bahwa mikroba sudah ada sebelum manusia ada, jadi kita berevolusi dengan ‘teman yang saling menguntungkan’ ini.”
Â


