Transformasi Bank Bandung: Tantangan dan Peluang
Wakil Ketua Pansus 18 DPRD Kota Bandung, Indri Rindani, mengakui Bank Bandung masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Mulai dari tingginya rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) hingga persoalan kapasitas sumber daya manusia.
Optimisme dan Langkah Transformasi
Indri tetap optimistis BPR Bandung mampu bangkit. Optimisme tersebut semakin menguat setelah Pansus melakukan kunjungan kerja ke Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo). Dari kunjungan itu, Pansus memperoleh berbagai masukan mengenai strategi transformasi BPR menjadi Perseroda.
“Kita harus memiliki semangat yang sama. Jangan pesimis melihat kondisi BPR saat ini. Justru melalui Pansus 18 ini kita ingin menghadirkan perubahan sehingga BPR Bandung dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih besar bagi Kota Bandung,” katanya.
Meningkatkan Kontribusi dan Akses Pembiayaan
Transformasi BPR perlu diarahkan untuk meningkatkan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), sekaligus memperluas akses pembiayaan bagi pelaku UMKM dan industri kreatif. Indri juga menyoroti rendahnya tingkat pengenalan masyarakat terhadap Bank Bandung.
Karena itu, sosialisasi dilakukan secara lebih masif dengan melibatkan Bagian Perekonomian, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, serta memperkuat promosi melalui media digital.
Sinergi dan Kolaborasi
Indri mendorong sinergi dengan OPD yang membina pelaku UMKM agar program pembiayaan BPR dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat kepercayaan masyarakat sekaligus memperluas basis nasabah Bank Bandung.
“Kita samakan visi dan spirit untuk membangun kembali BPR Bandung. Dengan kolaborasi seluruh pihak, saya yakin BPR Bandung dapat bangkit dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi serta peningkatan PAD Kota Bandung,” katanya.


