HomeBeritaBudi Daya Maggot di Mataram: Sampah Jadi Bernilai

Budi Daya Maggot di Mataram: Sampah Jadi Bernilai

Sampah organik rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Pantai Bagek Kembar, Kecamatan Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mulai diolah menjadi pakan untuk budi daya maggot black soldier fly (BSF). Program ini dikembangkan melalui fasilitas tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS3R) di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas Uap (PLTMGU) Lombok Peaker.

Pengelolaan tersebut dijalankan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama anak usahanya, PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg). Sampah yang sebelumnya berpotensi hanya dikumpulkan dan dibuang kini dipilah untuk dimanfaatkan dalam proses budi daya maggot. Dengan cara itu, limbah organik di kawasan tersebut diarahkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna.

Sampah dipilah dan diolah menjadi pakan maggot

Direktur Gas dan BBM PLN EPI Erma Melina Sarawati mengatakan, budi daya maggot merupakan bagian dari upaya membangun pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Prosesnya melibatkan warga sekitar serta pelaku UMKM yang berada di kawasan Pantai Bagek Kembar.

“Melalui fasilitas ini, sampah organik dari UMKM kawasan Pantai Bagek Kembar dan warga sekitar dipilah dan diolah, termasuk melalui budi daya maggot black soldier fly (BSF) guna mengurangi timbulan sampah sekaligus menciptakan nilai tambah bagi masyarakat,” kata Erma, dilansir Antara, Jumat (25/9/2026).

Keterlibatan masyarakat tidak berhenti pada pemilahan sampah. Kelompok masyarakat juga memperoleh pelatihan untuk mengolah sampah organik menjadi pakan maggot. Pelatihan tersebut membuat warga terlibat langsung dalam tahapan pemanfaatan sampah, bukan hanya dalam proses pengumpulan.

Melalui skema itu, sampah organik dari rumah tangga dan UMKM diposisikan sebagai bagian dari proses produksi. Bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah digunakan untuk mendukung budi daya maggot BSF sehingga pengelolaan sampah memiliki manfaat lingkungan sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat.

PLN EPI dorong kolaborasi dengan warga

Erma menyebut pengembangan budi daya maggot di Bagek Kembar merupakan bagian dari konsep ekonomi sirkular. Dalam konsep tersebut, material yang sebelumnya dianggap sebagai buangan dimanfaatkan kembali agar tetap memiliki fungsi dan nilai guna.

Menurut dia, penyelesaian persoalan sampah membutuhkan keterlibatan bersama, termasuk dari masyarakat yang berada di sekitar kawasan infrastruktur energi. Pembangunan fasilitas TPS3R, kata Erma, perlu disertai upaya mendorong warga agar ikut mengelola sampah secara berkelanjutan.

“Persoalan sampah ini menjadi masalah kita semua. Karena itu, kita tidak hanya membangun fasilitas, tetapi juga mendorong bagaimana masyarakat bersama-sama mengelola sampah sehingga manfaatnya bukan hanya untuk lingkungan, namun juga dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ujarnya.

PLN EPI berharap program tersebut memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya dalam mengurangi timbulan sampah organik. Perusahaan juga ingin kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat di sekitar kawasan terus diperkuat melalui pelatihan serta kerja sama lanjutan.

“Harapannya multiplier effect-nya tidak hanya dari sisi lingkungan, tetapi juga ada pemberdayaan lainnya. Kita ingin kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat ini semakin erat, termasuk melalui program-program pelatihan dan kerja sama yang dapat terus ditingkatkan,” kata Erma.

Source link

Harus Dibaca